Kamis, 14 April 2016

Tulisan Kasar Seorang Lelaki Kepada Wanita Alay

Wanita itu selalu ingin dimengerti, tapi dia tidak pernah tau bahwa lelaki itu memiliki derajat kebosanan juga. Lelaki diminta untuk sempurna, tetapi dia hanya makhluk yang lemah dan merasa paling kuat.
Tidak pernah mereka sadari bahwa lelaki yang baik itu tidak selalu perhatian kepadanya setiap saat. Lelaki yang baik justru yang memiliki waktu untuk dia disaat yang tepat. Bukan setiap saat.

Sayang kesini yuk? Besok bisa nggak, kalo nggak aku sama temen ku aja. Trus kalo pacarnya bilang gak mau. Ngambek. Apaan coba? Emang ngambek bisa menyelesaikan masalah?

Pikir deh pacar kamu kerja nya apa kalo setiap hari perhatian sama kamu.

Setiap lelaki juga manusia punya rasa cinta. Namun, cinta lelaki itu bukan semua perhatian ke kamu setiap saat.

Perhatikan deh orang tua kamu. Apakah mereka setiap saat berkomunikasi? Padahal udah ada ikatan pernikahan lo. Lah kamu baru pacaran aja udah segitunya ngatur pacar. Jadi apa ntar?

Trus ada yang bilang lagi di meme. Kalo sama kamu aja gak perhatian gimana pas udah menikah? Perhatian terus kapan suami kamu nyari makan? Harta emak bapak lo bisa menghidupi kamu selama hidup?

Kebiasaan sesorang manusia untuk tidak bersyukur memang menjadi masalah utama. Seorang wanita selalu ingin dapat perhatian kepada lelaki. Ketika telah menemukan yang baru apakah itu ditemukan? Ternyata tidak begitu seterusnya hingga berpuluh orang telah menjadi mantan kekasih wanita tersebut. Hahaha

Sungguh tidak ada perubahan ke arah yang baik jika engkau begitu teman. Lelaki akan beranggapan engkau yang memiliki mantan pacar yang banyak sebagai piala bergilir bukan sebagai orang yang berpengalaman dalam pacaran. Karena tidak ada pengaruh jumlah mantan dan pengalaman kamu dalam pacaran.

Senin, 29 Februari 2016

Surat untuk Ibu

Hai ibuku. Aku sekarang sudah ada di Surakarta. Aku sangat merasa senang bisa berada disini. Namun, lebih senang lagi jika melihat senyuman mu. Aku menulis ini sambil menangis lo. Aku tidak berharap engkau membacanya. Aku tau engkau buta aksara. Aku yakin engkau pasti senang mendengar aku telah kuliah.

Semenjak setahun terakhir engkau begitu susah melepaskanku untuk sekolah lagi. Alasannya aku terlalu jauh dan tidak bisa pulang kalau aku rindu. Aku tau itu bu. Tapi aku tidak bisa menolak doamu yang terkabul. Engkau begitu bangga mengatakan aku kuliah lagi, walaupun engkau tidak tau kuliah itu apa.

Engkau begitu renta untuk bekerja. Semenjak kecil tidak pernah engkau mengeluh untuk menghidupi adik-adikmu. Setelah menikah, kalian bersama menghidupi aku dan kakak-kakakku. Entah seberapa besar tenaga, uang, pikiran yang kalian sumbangkan untuk kami. Aku tidak dapat menghitungnya. Mungkin dunia seisinya tidak dapat membayarmu.  Caramu mendidik ku untuk jadi anak yang baik selalu ku ingat. Bahkan aku tau engkau setiap hari mendoakan ku untuk selalu sukses dan mendapatkan apa yang ku inginkan.

Aku pernah mendengar engkau menjual semua perhiasan dan barang yang engkau miliki demi anakmu. Aku lagi kan? Walau uang sedikit di dompet yang penting aku dapat kiriman. Aku tau engkau butuh makan bu. Tapi kalau ditanya pasti makan sayur. Mau dikata apa tetap saja itu yang kau punya. Aku tau engkau sering bohong kepadaku. Engkau mengatakan tidak pernah absen membeli ikan, namun itu tidak benar. Kalau pun membeli ikan itu pasti untuk bapak. Engkau rela makan kuah ikan kalau bapak menginginkan ikan. Begitu banyak pengorbananmu bu.

Pernah suatu hari saat aku SMA ada program pengentasan buta aksara. Sepertinya itu program mahasiswa Untan. Aku tau engkau butuh ilmu tersebut. Namun engkau lebih memilih anakmu. "Aku telah tua jadi gak bisa membaca juga tidak masalah. aku mati pun nanti tidak akan ditanya malaikat pendidikan sampai mana", katanya. "Kalau memang ditanya maka aku menjawab dua hari saja aku sekolah setelah itu, entahlah. Adik-adikku lebih butuh makan dari pada sekolahku", lanjutmu.

Aku tak menemukan kata egois dari dirimu. Aku hanya tau engkau selalu ingin anaknya bahagia bukan dia. Engkau begitu tegar di luar. Namun aku tau engkau sering sakit. Bahkan mengatakan tidak sakit. Aku juga tau engkau setiap malam selalu memikirkan kami anak-anakmu walau kami jarang demikian. Bapak sering bilang engkau sering menyebut namaku.

Dari hati yang paling dalam aku ingin mengatakan aku sayang ibu.

Sabtu, 13 Februari 2016

Lupakah kamu melihat ke depan?

Entah kapan besok entah kemarin
Tidak dapat melihat ke depan
Ketika bau bangkai yang mengacaukan
Tak bisa bisa dibedakan
Atau tak terikat
Begitu banyak suara yang dapat tercium.
Hingga lupa segala warna
Tiada lagi merah atau putih
Hanya hitam.

Begitu mudah pertempuran di medan perang
Hanya karena berbeda arti
Bukankah ada pindah pintu itu?
Tertutup semua ketika berbeda wajah
Wajah menyeramkan semisal iblis
Memang salahkan?
Atau hanya pura-pura salah
Entah

Awan tebal menutup langit
Seakan tidak ada mentari cerah
Tidak ada sinar lagi kah?
Hanya petir dan kilat
Fatamorgana!
Engkau lupa bersyukur
Pelangi kan muncul
Tanaman akan tumbuh
Udara segar akan datang
Lihat saja warna itu
Semua warna menerangi bumi
Muncul dari hitam
Semua pasti indah
Tunggu saja
Pasti
Ha

Hidup tak terlihat harum hanya jika kau lihat
Hidup tak terlihat warna jika kau suka hitam
Hidup tak terdengar indah jika engkau disini
Hidup perlu kamu maju bergerak terus tanpa henti

Be grateful.