gambar

gambar
Ardiansah

Rabu, 28 Januari 2015

Sang Bunda Menjadi Pengendali Pemerintahan

Esai ini ditulis sebagai kontrol politik, tidak lebih.

Saat ini kekecewaan saya benar-benar terasa, terlebih melihat satu-persatu keputusan ayah yang memihak pada bunda. Mulai dari awal kepemimpinan nya sudah dengan menunjuk tokoh partai (katanya waktu kampanye sih, gak begitu, entahlah), menurun naikkan harga BBM (efeknya ongkos angkutan gak menurun walau harga BBM), membeli kembali indosat (?),  hingga menunjuk pengawal sang Bunda menjadi kapolri.

Sang peraih nominasi tokoh paling berpengaruh di dunia menurut majalah times ini, pernah mengatakan bahwa akan memilih golongan profesional dalam konfigurasi kabinetnya. Namun apakah benar?. Faktanya anak bunda, itu berasal dari golongan partai kan?. Begitulah politik teman2 manis di depan pahit selama 100 hari ini.

Kenaikan harga bahan bakar minyak katanya untuk mengurangi hutang negara dan defisit APBN yang selalu minus. Tapi orang menghitung kenaikan BBM itu orang yang kurang paham menghitung. Sehingga harga jual BBM minyak dunia lebih murah dari pada di indonesia. Cukup lucu untuk membuat saya tertawa! Namun ongkos angkutan umum bukan turun seiring turun nya BBM. Sebagai gantinya diterbitkan beberapa jenis kartu yang sama seperti pemerintahan sebelumnya dan hanya diganti nama (biar keren). Sebagai rakyat miskin ini justru merendahkan martabat mereka. Ya sudahlah, Mungkin kalimat bukan urusan saya sudah menjadi slogan nya. Itu mungkin perintah ibu. Nanti kualat kalo nggak dituruti.

Janji politisi umumnya sangat sulit untuk dipercayai. Membeli seluruh saham indosat dari ooredoo. Hallo! Ibu yang jual anak yang membeli kembali. Pencitraan memang, biar dipilih, sebagai klarifikasi tentang bunda yg menjual indosat pada ooredoo.

Hal yang paling saya sesalkan adalah penunjukan selebriti yang tamat smp. Beberapa keputusannya memang membuat kapal asing jera. Membakar kapal asing yang ketahuan mencuri ikan. Sebetulnya ini bisa saja dilakukan dengan mengambil alih kapal tersebut, lalu dilelang, bukan membakar. Pembakaran tentunya akan menghasilkan gas karbondioksida yang merupakan gas pemicu terjadinya efek rumah kaca. Selain itu, sisa bahan kapal yang tidak terbakar tentu akan tenggelam ke laut. Bisa anda bayangkan betapa banyak bahan pencemar yang akan mencemari laut indonesia yang telah tercemar sebelumnya.

Udah ah capek ngetik, tunggu tulisan berikutnya yang pro ayah :) (kalo lebih baik).
See you.

Tidak ada komentar: