Sabtu, 29 Juni 2013

Dilema Styrofoam

mengapa Styrofoam begitu marak digunakan saat ini? bahkan beberapa kemasan makanan juga sering menggunakan barang tersebut. tahukah anda bahwa Styrofoam sangat berbahaya. bahkan beberapa tahun yang lalu restoran di Amerika telah menghentikan produk mereka yang menggunakan styrofoam. Namun tidak demikian yang terjadi di Indonesia, malahan sekarang berbagai produk makanan menggunakannya sebagai wadah penyimpanan.
Menjamurnya penggunaan Styrofoam sendiri tidak lepas dari bentuk dan segi ekonomisnya. lihat saja warnanya putih, bersih dan ringan dibawa. ini menjadikannya primadona alat penyimpanan atau wadah pangan. sebagai contoh makanan instan, mie instan, minuman bahkan jamur pun ada yang dijual dengan menggunakan wadah ini. selain itu dari segi bentuk, styrofoam sangat mudah dibentuk oleh perusahaan. selain itu bentuk wadah ini juga bermacam-macam ada yang berbentuk gelas, bentuk flip, dan bentuk seperti piring.
namun sadarkah anda begitu berbahanya styrofoam ini? berikut adalah alasannya:
  1. Semakin Panas Semakin Cepat

Semakin tinggi suhu makanan yang dimasukkan ke dalam plastik, semakin cepat terjadi perpindahan ini. Apalagi bila makanan berbentuk cair seperti bakso, mi ayam, sup, sayuran berkuah dan sebagainya. Saat makanan panas ini dimasukkan ke dalam plastik, kita bisa lihat plastik menjadi lemas dan tipis. Inilah tanda terputusnya ikatan-ikatan monomer. Perpindahan monomer juga terjadi bila makanan atau minuman dalam wadah plastik terkena panas matahari secara langsung. Padahal di restoran-restoran siap saji dan di tukang-tukang makanan di pinggir jalan, styrofoam digunakan untuk membungkus makanan yang baru dimasak. Malahan ada restoran cepat saji yang memanaskan lagi makanan yang telah terbungkus styrofoam di dalam microwave. Bayangkan, betapa banyaknya zat kimia yang pindah ke makanan kita dan akhirnya masuk ke dalam tubuh kita.
penjelasan ilmiahnya adalah karena adanya  



Semakin Berlemak Semakin Cepat

Saat makanan atau minuman ada dalam wadah styrofoam, bahan kimia yang terkandung dalam styrofoam akan berpindah ke makanan. Perpindahannya akan semakin cepat jika kadar lemak dalam suatu makanan atau minuman makin tinggi. Selain itu, makanan yang mengandung alkohol atau asam (seperti lemon tea) juga dapat mempercepat laju perpindahan.

Styrene, bahan dasar styrofoam, memang bersifat larut lemak dan alkohol. Karena itu, wadah dari jenis ini tidak cocok untuk tempat susu yang mengandung lemak tinggi. Begitu pun dengan kopi yang dicampur krim. Padahal, tidak sedikit restoran cepat saji yang menyuguhkan kopi panasnya dalam wadah ini. Makanan yang mengandung vitamin A tinggi sebaiknya juga tidak dipanaskan di dalam wadah styrofoam, karena styrene yang ada di dalamnya dapat larut ke dalam makanan. Pemanasan akan memecahkan vitamin A menjadi toluene. Toluene inilah pelarut styrene.

Tidak Ramah Lingkungan

Selain berefek negatif bagi kesehatan, styrofoam juga tak ramah lingkungan. Karena tidak bisa diuraikan oleh alam, styrofoam akan menumpuk begitu saja dan mencemari lingkungan. Styrofoam yang terbawa ke laut, akan dapat merusak ekosistem dan biota laut. Beberapa perusahaan memang mendaur ulang styrofoam. Namun sebenarnya, yang dilakukan hanya menghancurkan styrofoam lama, membentuknya menjadi styrofoam baru dan menggunakannya kembali menjadi wadah makanan dan minuman.

Proses pembuatan styrofoam juga bisa mencemari lingkungan. Data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986 menyebutkan, limbah berbahaya yang dihasilkan dari proses pembuatan styrofoam sangat banyak. Hal itu menyebabkan EPA mengategorikan proses pembuatan styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Selain itu, proses pembuatan styrofoam menimbulkan bau yang tak sedap dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.

Dengan sifat-sifatnya seperti itu, sudah selayaknya kita lebih berhati-hati menggunakan styrofoam. Kalau hendak menggunakan styrofoam untuk menjaga makanan tetap hangat, sebaiknya makanan dimasukkan terlebih dahulu dalam wadah tahan panas dan dijaga tidak ada kontak langsung dengan styrofoam.

Alternatif Penggunaan Styrofoam

Namun ternyata di balik semua itu, ada sedikit manfaat dari styrofoam, yaitu pembuatan batako berbahan baku styrofoam. Pembuatan batako dari styrofoam sangat sederhana sehingga tidak perlu keahlian khusus. Yang penting takaran bahan bakunya tepat. Bahan baku styrofoam memang mendapat porsi lebih banyak dibandingkan dengan bahan baku lainnya. Komposisinya 50% styrofoam, 40% pasir, dan 10% semen. Penggunaan styrofoam bisa menghemat 50% kebutuhan pasir ketimbang penggunaan batu bata. Bahan baku styrofoam juga lebih unggul dibandingkan dengan semen karena dalam styrofoam terkandung banyak serat. Ini membuat fondasi bangunan yang menggunakan styrofoam lebih kuat.

Tidak ada komentar: