gambar

gambar
Ardiansah

Rabu, 23 Oktober 2013

Sifat Keperiodikan Sistem Periodik Unsur


1. Energi Ionisasi

Energi ionisasi adalah energi yang diperlukan untuk mengeluarkan elektron valensi dari suatu atom atau ion dalam wujud gas. Nilai energi ionisasi bergantung pada jarak elektron valensi terhadap inti atom. Makin jauh jarak elektron valensi terhadap inti atom, makin lemah tarikan inti terhadap elektron sehingga energi ionisasi makin kecil. Pada periode yang sama, dari kiri ke kanan jari-jari atom relatif tetap, tetapi jumlah proton bertambah. Hal ini menyebabkan tarikan inti terhadap elektron valensi makin besar, sehingga energi ionisasi makin besar.
Untuk unsur-unsur satu golongan, dari atas ke bawah, jari-jari atom bertambah secara tajam dengan bertambahnya kulit elektron (orbital). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa secara umum energi ionisasi menurun dengan bertambahnya nomor atom. 

2.  Jari-jari Atom

Jari-jari atom adalah jarak dari pusat inti ke elektron paling luar. Jari-jari atom ditentukan dengan mengukur panjang ikatan (jarak antar inti) dalam senyawa. Jari-jari atom sangat kecil, diduga diameternya sekitar 10–10 m. Satuan yang biasa digunakan untuk menyatakan jari-jari atom adalah angstrom (Å). Satu angstrom sama dengan 10–10 m.
Jari-jari atom berubah-ubah bergantung pada besarnya tarikan antara inti dengan elektronnya. Makin besar tarikan, makin kecil jari-jari atomnya. Tarikan inti terhadap elektron dipengaruhi oleh jumlah proton dalam inti dan jumlah kulit yang mengandung elektron. Inti dengan jumlah proton yang lebih banyak mempunyai tarikan yang lebih besar terhadap elektron-elektronnya. Penurunan jari-jari atom dari kiri ke kanan dalam periode yang sama disebabkan bertambahnya jumlah proton di dalam inti atom, sedangkan jumlah orbitalnya sama. Dengan bertambahnya jumlah proton, tarikan inti terhadap elektron valensi makin kuat sehingga terjadi pengerutan volume atom. Akibatnya, jari-jari atom dari kiri ke kanan mengecil. Kenaikan jari-jari atom dari atas ke bawah dalam golongan yang sama disebabkan bertambahnya jumlah bertambahnya orbital (lintasan) elektron. Bertambahnya orbital menyebabkan volume atom mengembang sehingga jari-jari atom meningkat. 

3. Afinitas Elektron

Afinitas elektron adalah perubahan energi atom ketika elektron ditambahkan kepada atom itu dalam keadaan gas. Berbeda dengan energi ionisasi, afinitas elektron dapat berharga positif atau negatif. Jika satu elektron ditambahkan kepada atom yang stabil dan sejumlah energi diserap maka afinitas elektronnya berharga positif. Jika dilepaskan energi, afinitas elektronnya berharga negatif.

Secara umum, nilai afinitas elektron dalam golongan yang sama dari atas ke bawah menurun, sedangkan pada periode yang sama dari kiri ke kanan meningkat. Nilai afinitas elektron umumnya sejalan dengan jari-jari atom. Makin kecil jari-jari atom, nilai afinitas elektron makin tinggi. Sebaliknya, makin besar jari-jari atom, nilai afinitas elektron kecil.

4. Keelektronegatifan

Keelektronegatifan didefinisikan sebagai kecenderungan suatu atom dalam molekul untuk menarik pasangan elektron yang digunakan pada ikatan ke arah atom bersangkutan. Skala keelektronegatifan yang dipakai sampai sekarang adalah yang dikembangkan oleh Pauling sebab lebih lengkap dibandingkan skala keelektronegatifan yang lain.

Gambar 4. Linus Pauling
Sumber : Mudah dan Aktif Belajar Kimia, 2009

Pauling memberikan skala keelektronegatifan 4 untuk unsur yang memiliki energi ionisasi dan energi afinitas elektron tinggi, yaitu pada unsur florin, sedangkan unsur-unsur lainnya di bawah nilai 4.

Pada tabel periodik, unsur florin yang ditetapkan memiliki keelektronegatifan 4 (terbesar) berada di ujung kanan paling atas. Adapun Unsur fransium yang memiliki keelektronegatifan terendah yaitu 0,7 berada di kiri paling bawah dalam tabel periodik.
5. Sifat Logam non-logam
Secara kimia, sifat logam dikaitkan dengan keelektronegatifan, yaitu kecenderungan melepas elektron membentuk ion positif. Jadi, sifat logam tergantung pada energi ionisasi. Ditinjau dari konfigurasi elektron, unsurunsur logam cenderung melepaskan elektron (memiliki energi ionisasi yang kecil), sedangkan unsur-unsur bukan logam cenderung menangkap elektron (memiliki keelektronegatifan yang besar). Sesuai dengan kecenderungan energi ionisasi dan keelektronegatifan, maka sifat logam-nonlogam dalam periodik unsur adalah:
1.                  Dari kiri ke kanan dalam satu periode, sifat logam berkurang, sedangkan sifat nonlogam bertambah. 
2.                  Dari atas ke bawah dalam satu golongan, sifat logam bertambah, sedangkan sifat nonlogam berkurang.
Jadi, unsur-unsur logam terletak pada bagian kiri-bawah sistem periodik unsur, sedangkan unsur-unsur nonlogam terletak pada bagian kanan-atas. Batas logam dan nonlogam pada sistem periodik sering digambarkan dengan tangga diagonal bergaris tebal, sehingga unsurunsur di sekitar daerah perbatasan antara logam dan nonlogam itu mempunyai sifat logam sekaligus sifat nonlogam. Unsur-unsur itu disebut unsur metaloid. Contohnya adalah boron dan silikon. Selain itu, sifat logam juga berhubungan dengan kereaktifan suatu unsur. Reaktif artinya mudah bereaksi. Unsur-unsur logam pada sistemperiodik unsur makin ke bawah semakin reaktif (makin mudah bereaksi) karena semakin mudah melepaskan elektron. Sebaliknya, unsur-unsur bukan logam pada sistem periodik makin ke bawah makin kurang reaktif (makin sukar bereaksi) karena semakin sukar menangkap elektron. Jadi, unsur logam yang paling reaktif adalah golongan IA (logam alkali) dan unsur nonlogam yang paling reaktif adalah golongan VIIA (halogen) (Martin S. Silberberg, 2000).

6. Titik Leleh Titik Didih

Berdasarkan titik leleh dan titik didih dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Dalam satu periode, titik cair dan titik didih naik dari kiri ke kanan sampai golongan IVA, kemudian turun drastis. Titik cair dan titik didih terendah dimiliki oleh unsur golongan VIIIA. 
2.  Dalam satu golongan, ternyata ada dua jenis kecenderungan: unsurunsur golongan IA – IVA, titik cair dan titik didih makin rendah dari atas ke bawah; unsur-unsur golongan VA – VIIIA, titik cair dan titik didihnya makin tinggi.

  7. Keasaman

Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+. kecenderungan dalam sistem periodik adalah 
1. Dalam satu periode, sifat keasaman semakin meningkat dari kiri ke kanan. hal ini karena unsur tersebut semakin mudah melepas H+ dalam ikatannya. ini menyebabkan sifat keasaman IIA akan lebih besar dari IA dan yang paling besar adalah golongan VII A.
contoh reaksi ionisasi dari asam adalah
HCl -> H+ + Cl- 
2.  Dalam satu golongan, sifat keasaman semakin meningkat dari bawah ke atas. hal ini karena unsur tersebut semakin mudah melepas H+ dalam ikatannya. ini menyebabkan sifat keasaman periode 7  akan lebih besar dari periode 6 dan yang paling besar adalah periode 2.

8. Kebasaan 

Menurut Arrhenius, basa adalah zat yang dalam air melepaskan ion OH-. kecenderungan dalam sistem periodik adalah 
1. Dalam satu periode, sifat keasaman semakin meningkat dari kanan ke kiri. hal ini karena unsur tersebut semakin mudah melepas OH- dalam ikatannya. ini menyebabkan sifat kebasaan IA akan lebih besar dari IIA dan yang paling besar adalah golongan I A.
contoh reaksi ionisasi dari basa adalah
NaOH -> Na+ + OH- 
2.  Dalam satu golongan, sifat keasaman semakin meningkat dari atas ke bawah. hal ini karena unsur tersebut semakin mudah melepas OH- dalam ikatannya. ini menyebabkan sifat kebasaan periode 3  akan lebih besar dari periode 4  dan yang paling besar adalah periode 7

9. Reduktor
10. Oksidator
11. Kemampuan membentuk ikatan ion
12. Kemampuan membentuk ikatan kovalen

Tidak ada komentar: